June 2007


Matematika Gaji dan Logika Sedekah

 Oleh A. Muttaqin

Dalam satu kesempatan tak terduga, saya bertemu pria ini. Orang-orang biasa memanggilnya Mas Ajy. Saya tertarik dengan falsafah hidupnya, yang menurut saya, sudah agak jarang di zaman ini, di Jakarta ini. Dari sinilah perbincangan kami mengalir lancar.

Kami bertemu dalam satu forum pelatihan profesi keguruan yang diprogram sebuah LSM bekerja sama dengan salah satu departemen di dalam negeri. Tapi, saya justru mendapat banyak pelajaran bernilai bukan dari pelatihan itu. Melainkan dari pria ini.

Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali perbincangan yang kami bangun.

Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama bernasib “guru” yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi.

Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA. Sering pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bisa mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah yang diterimanya.

“Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis.”

“Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?”

“Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang.”

“Kenyataannya memang begitu kan Mas?”, kata saya mengiayakan. “Mana mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa berbagi.” Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.

“Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar dari medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?”

“Tidak ada. Habis.” jawab saya spontan.

“Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga.”

Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang seribu rupiah? Dari mana sisanya?

“Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah diberikan pada pengemis “, saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.

“Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran doa’ keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC.”

Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya. Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang hidup di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat. Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi dan berbagi.

Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru perasaanya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya berlipat-lipat.

“Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai metematis dengan dimensi sedekah itu?”.

“Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qona’ah, ridha dan syukur”. Saya semakin tertegun

Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya habiskan. Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini pandangan saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada. Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah lama diabaikan. Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara melalui pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan.

***

Sepulang berjamaah saya membuka kembali Al-Qur’an. Telah beberapa waktu saya acuhkan. Ada getaran seolah menarik saya untuk meraih dan membukanya. Spontan saya buka sekenanya. Saya terperanjat, sedetik saya ingat Mas Ajy. Allah mengingatkan saya kembali:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Terjemah QS. Al-Baqarah [2] 261)

Jika ada yang bertanya kepada kita

 

1. Jika ada yg bertanya kpd kita,”Apakah yg paling

 dekat dgn diri kita didunia ini?”

 Kita pasti akan menjawab : “orang tua, guru, teman,

 kaum kerabat, pacar,anak, istri dsb.”  Semua jawaban

 itu benar.

 ‘Tetapi yg paling dekat dengan kita ialah MATI.

 Sebab itu janji Allah bahwa setiap bernyawa pasti

 akan mati’(Surah Ali-Imran :185).

 

 Tapi pertanyaan berikutnya adalah : Apakah kita sudah siap mati ?

Sudah punya bekal untuk    menghadapi kematian itu sendiri ?

Sebab tidak satupun dari kita yang mengetahui hari esok
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

 2. Jika ada yang bertanya kepada kita, “Apa yg

 paling jauh dari kita di dunia ini?”

 Kita pasti akan menjawab:” negeri cina,bulan,

 matahari,bintang- bintang, galaksi, dsb” “Semua

 jawaban itu benar”.

 Tetapi yang paling jauh adalah MASA LALU.

 Bagaimanapun kita,secanggih & sehebat apapun

 kendaraan kita, tetap kita tdk akan dapat kembali ke masa yang

 lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini,

 hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan

 yg sesuai dengan ajaran agama.

 

Melihat kebelakang tidak selalu jelek kalau itu menjadikan

kita lebih baik lagi. Sebagai cermin agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama dan senantiasa sibuk memperbaiki diri.
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

  

 3. Jika ada yang bertanya kepada kita, “Apa yang

 paling besar di dunia ini ?”

 Kita pasti akan menjawab : “Gunung, matahari, bumi,

 jagat raya, dsb” “Semua jawaban itu benar”.

 Tapi yang paling besar adalah HAWA NAFSU,

 ‘Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk kebanyakan dari

 jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak

 dipergunakannya untuk memahami dan  mereka mempunyai

 mata tidak dipergunakannya untuk melihat dan mereka

 mempunyai telinga tidak dipergunakannya untuk

 mendengar.

 Mereka itu sebagai binatang ternak bahkan mereka

 lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.’

 (Surah Al A’raf: 179).

 Maka kita harus hati2 dgn nafsu kita, jangan sampai

 nafsu kita membawa ke neraka.

 

 Huh…. ini yang paling besar dalam perannya menjebloskan kita ke dalam neraka (na’udzubillahi min dzalik). Jihadun Nafs ga untuk bulan Ramadhan aja.. tapi setiap saat. Bukankah orang yang kuat adalah orang yang mampu menaklukan HAWA NAFSU nya ?

<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

 4. Jika ada yang bertanya kepada kita, “Apa yang

 paling berat di dunia ini ?”

 Kita pasti akan menjawab : “Besi, baja, gajah,

 traktor, truk container, dsb” “Semua jawaban itu

 benar” Tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah

 Al-Azab : 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung,

 dan malaikat semua tiada yg mampu ketika Allah SWT

 meminta mereka menjadi khalifah(pemimpin) di muka bumi ini.

 Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut

 menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak

 manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang

 amanah.

 

 Tapi banyak yang tidak menyadari beratnya memegang amanah. Apalagi bila sudah berhubungan dengan kekuasaan dan uang. Mereka akan berebut mendapatkannya tidak perduli dengan cara apapun. Mereka lupa bahwa semuanya kelak harus dipertanggung jawabkan, sekecil apapun amanah itu

 

 5. Jika ada yang bertanya kepada kita, “Apa yang

 paling ringan di dunia ini ?”

 Kita pasti akan menjawab : “Kapas, angin, debu,

 daun-daun, dsb”

 “Semua jawaban itu benar” Tapi yang paling ringan di

 dunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Gara-gara

 pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan

 sholat.

 

 Saking ringannya kita jadi sering melalaikannya dan menganggapnya sebagai ibadah sampingan yang bisa di tunda bila kita sudah sempat. Padahal Sholat adalah kesempatan kita untuk bertemu dengan KEKASIH SEJATI….
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

 6. Jika ada yang bertanya kepada kita,”Apa yang

 paling tajam sekali di dunia ini ?”

 Kita pasti akan menjawab : “Duri, pisau, pedang,

 samurai, dsb”

 “Semua jawaban itu pun benar” Tapi yg paling tajam

 sekali di dunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Karena

 melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti

 hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

 “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak

 manfaatnya bagi Orang lain (HR.Bukhari) “

 

Mulutmu adalah harimau mu…. !!

 

Best Regards,
Imanda Amalia

Next Page »