Be the one who love everyone.It's better than be the one who beloved by everyone

HIKMAH MUTIARA DAN KERANG REBUS

Sebuah mutiara terbentuk dari proses penderitaan dan sakit teramat sangat yang dirasakan anak kerang. Saat kecil, cangkang kerang membuka dan menutup. Saat itu pula butiran pasir akan masuk kedalam cangkang. Kerang kecil menangis. Merasai betapa sakit pasir-pasir melukai dan menyesak ke cangkangnya.

Maka kerang kecil menangis dan menjerit, mengadu pada ibunya, “aduh,ibu..sakit nian pasir-pasir ini. Perih sekali ibu, pedih, aku tak kuasa menahannya..” rintihan itu tak pernah berhenti beriring derai air mata yang terus mengalir. Sang ibu mencoba untuk menegarkan anaknya, “sabarlah anakku, engkau harus kuat..” wasiat sang ibu.

Tentu tak semua anak kerang mampu. Tak semua terpilih. Pasti akan ada yang tersisih.karena tak semua bisa menghadapi kesulitan dengan ketabahan. Tak semua bisa melewati ujian yang menghadang di hadapan.

Dan waktupun menjawab. Menjadi saksi detik-demi detik sakit si anak kerang. Kesakitan itupun lama-lama tak lagi dirasai. Sang waktu tetap setia menemani perjalanan pedih yang tertahan oleh anak kerang. Cangkang kerang terus membuka dan menutup. Dengan belas kasih, air mata kerang kecil membungkus pasir-pasir itu agar tak lari. Disimpannya pasir-pasir itu dalam cangkangnya. Dileburnya rasa sakit dalam paduan kesabaran dan keikhlasan.

Di penghujung waktu, manusia akan mengambil kerang-kerang itu. Seleksi terjadi. Kerang berisi pasir dipisah. Kerang biasa dipilah. Dan tengoklah nasib kedua kerang itu. Kerang berpasir telah mewujud mutiara. Sementara kerang biasa direbus sebagai menu makanan.

Mutiara dipajang di tempat berkelas. Ditaruh ditempat terhormat. Dihargai ratusan juta dan dipakai oleh orang-orang yang terpilih. Sementara kerang rebus, dipajang dipinggir jalan. Ditaruh di gerobak usang. Dihargai seribu rupiah.

Maka, hidup adalah pilihan. Semenjak kecil hingga detik inipun, hidup kita tak pernah lepas dari pilihan. Mau sukses atau tidak, mau maju atau tidak, mau pintar atau tidak, mau tahu atau tidak mau tahu. Semua itu tergantung pada kemauan dan kerja keras kita.

Sanggupkah kita menjalani hidup seperti kerang kecil yang berhasil menjadi mutiara? Penuh derita, kesakitan, derai air mata dan kepedihan, tapi karena ia kuat, pantang menyerah dan penuh kesabaran, maka hasil yang maksimal pun diraihnya. Ia dipandang sebagai barang mewah kelas atas. Atau kita hanya bisa menjadi kerang rebus yang tersisih dan dijajakan dipinggir jalan? Semua tentu terserah kita.

Setiap kita menempati sebuah ruang kehidupan. Diruang itu kita menjalani proses menjadi. Dari tidak ada menjadi ada. Dari tidak punya menjadi punya. Dan proses di ruang kehidupan itu, seharusnya juga proses dari tak bisa menjadi bisa. Dari tidak memiliki menjadi bisa memberi. Setiap orang bisa memilih proses itu. Tapi hanya orang-orang besar yang memilih proses melelahkan. Sebab ia ingin lebih memberi dan memberi. Maka merekapun memahami arti hentakan-hentakan hidup sebagai pengungkit prestasi, karya dan amal shalih.

Ingatlah bahwa daun yang kering akan gugur karena ia tak diperlukan lagi. Bunga yang layu akan disingkirkan dari taman karena tidak lagi memberikan keindahan. Kita? Jika kita tidak mampu memberikan karya, arti atau manfaat dalam hidup ini, maka nasib kita mungkin saja seperti daun kering atau bunga yang layu. Tersingkir karena tak berarti apa-apa. Minimal, setiap kita bisa memberi manfaat dalam keluarganya. Karena keluarga adalah salah satu ruang kehidupan yang layak untuk diberi arti. 

Karenanya, harus ada hentakan-hentakan hidup yang berani untuk kita coba lakukan. Namun, menciptakan hentakan-hentakan hidup, sesungguhnya adalah sebuah proses menuju perubahan baru dalam perjalanan hidup kita. Ia adalah sikap dan kesadaran yang mahal, yang tentu saja tak semua orang bisa melakukannya. Ini bukan masalah sanggup atau tidak sanggup, tapi mungkin kita hanya belum berani melakukannya walau hanya sekali.

Ya, sebab hidup adalah pilihan.

(semoga bermanfaat)

  regards 

    wie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: