Be the one who love everyone.It's better than be the one who beloved by everyone

Sesungguhnya diri ini sudah lama tak merasai duduk bersama,

Makan bersama, dan berbagi bersama dengan mereka,

Anak – anak yatim, fakir miskindan orang – orang lemah.

Dan tangan ini sudah lama tak terulur untuk mereka.

 

(Cuma) Sekantong Gorengan…

Bayu Gautama

  

       Seorang anak belasan tahun terduduk lemas di bawah pohon di pinggir jalan. Matanya yang sayu nampaktengah mengamati antrian mobil di sepanjang jalan Wijaya, Jakarta Selatan. “Mobil –mobil mewah” pikirnya. Sejenak kuperhatikan matanya menerawang, entah apa yang di pikirkannya, namun yang kutahu pasti ia sangat lelah. Itu bisa di lihat dari seikat sapu lidi yang bertengger bersama tubuhnya di pohon rindang, juga seonggok sampah dalam sebuah keranjang besar. Kutahu, ia seorang penyapu jalanan yang setiap pagi tak pernah absent mengukur jalanan kota.

 

            Tak kuasa rasanya kaki ini terus melangkah tanpa berhenti menyapanya. Matanya yang sayu nampak tajam itu seperti menusuk hati ini dan memaku kuat kaki – kaki ini untuk berhenti melangkah. Bukan, bukan mobil – mobil mewah itu yang membuatnya menerawang, aku yakin, itu hanya pelampiasan satu rasa yang sampai pagi ini di tahannya. Dan kini, dari matanya, juga gerak lemah tubuhnya, aku bisa menangkap rasa yang tertahan itu.

 

            “Sudah makan dik ?” sapaku dengan senyum yang kupaksakan semoga menjadi yang termanis agar ia tak merasa sungkan atau takut.

“ Belum… “ Benar dugaanku. Tubuhnya bergerak sedikit bergeser semakin merapat ke pohon, namun matanya terus mengira – ngira siapa gerangan yang menyapanya.

 

            “Ini, ambillah…” sebungkus gorengan yang baru saja kubeli di perempatan dekat lampu merah serta sebotol air mineral siap menjadi miliknya. Seperti menggotong gunung terbesar di dunia rasanya jika aku terus mendekap makanan kecil tersebut tanpa peduli rasa lapar yang di tahan anak itu.

 

            “Nggak… nggak usah… “ Duh…ingin sekali rasanya hati ini menangis. Sudah pasti ku tahu ia sangat lapar, tapi kenapa ia masih menolak pemberianku. Hmm, mungkin senyumku kurang manis, atau bisa jadi ia menangkap ke kurang ikhlasanku menyerahkan sarapan pagiku untuknya. Bisa saja, mata hatinya merasai beratnya tangan ini saat terhulur bersama bungkusanku. Bukan tidak mungkin ia mampu melihat lebih dalam niat yang tersembul bersamaan dengan uluran tangan ini, yakni sekedar ingin mendapat pujian atau perhatian dari sekelilingku.

 

            Ah… tidak. Takkan kubiarkan itu terjadi. Kulatih wajah dan bibirku untuk bisa memancarkan senyum terindah yang menyejukan. Kurangkai betul kalimat yang semestinya keluar dari mulut ini agar tak menakutkan lagi, dan kuayunkan tangan ini seperti senam kesegaran jasmani yang entah sudah berapa tahun tak pernah kulakukan lagi, agar tangan ini menjadi ringan saat terulur. Ahaaaa…. Hatiku berteriak, mungkin karena sudah lama tak melakukan senam, sehingga tangan ini semua menjadi kaku. Tapi…. Bukankah bersedekah itu tidak ada kaitannya dengan rajin senam, olah raga apalagi angkat beban ? Berarti, untuk apa juga kulatih wajah dan bibirku tadi, dan bersusah payah merangkai kata layaknya seorang pujangga tengah menyusun syair keagungan hanya sekedar untuk menyodorkan sedekah.

 

            “ Ayo….ambil aja….” Kali ini benar – benar kuperbaiki senyumku, juga uluran tangan yang lebih ringan. Tentu saja tanpa melakukan latihan – latihan terlabih dahulu. Karena ini sekedar mengulang satu hal yang sudah lama tak kulakukan. Ya… ! Hatiku berteriak lagi. Kutemukan jawabannya. Masalahnya bukan soal wajah dan senyumku yang harus di paksakan semanis – manisnya, atau sudah sekian lamanya tak bersenam tangan. Sesungguhnya, diri ini sudah lama tak merasai duduk bersama, makan bersama, dan berbagi dengan mereka, anak – anak yatim, fakir miskin, orang – orang yang lemah. Tangan ini sudah lama tak terulur untuk mereka, bahkan seringkali wajah dan pandangan ini berpaling dari hentakan – hentakan kaki lapar mereka, juga erangan penderitaan yang semestinya memekakan telinga ini. Kuulangi tawaranku, tapi kali ini sambil duduk di sampingnya. Kalau saja pohon itu cukup untuk berbagi sandaran, tentu aku akan bersandar pula dengannya, sekedar untuk membuatnya nyaman. Untungnya, pohon itu terlalu kecil untuk tempat berbagi, karena sesungguhnya saat itu aku tidak membutuhkan sandaran itu. Cukuplah itu untuknya, aku tak ingin merebut lahan kesejukannya. Mungkin saja, selama ini hanya pohon itulah tempatnya bersandar, memperdengarkan keluhannya, menempelkan peluhnya, dan sesekali menjadi bantal tidurnya.

 

            Ia sangat tahu, seandainya pohon itu memiliki tangan, pastilah kehangatan pelukannya senatiasa di rasai. Tapi bukankah Tangan – Tangan ALLAH bertebaran dimana – mana ? Saya yakin bahwa keyakinan itulah yang menjadikannya terus bersandar di pohon ciptaan ALLAH itu, karena ia tahu, kapanpun, dan dimanapun ia memasrahkan diri, ALLAH selalu disana. Bersama orang – orang yang lemah, memeluk erat anak – anak yatim dan sangat dekat dengan para fakir miskin.

 

            Tanganku masih terulur. Ia tak segera menyambutnya. Hanya keraguan yang menyemburat dari wajahnya.

 

            “ Kalau saya ambil ini, mas makan apa ? “  Degg… Kali ini aku ingin menangis. Ingin sekali kupeluk dia. Aneh rasanya, di jaman seperti ini, saat banyak orang tak peduli lagi dengan kepentingan – kepentingan orang lainnya, di waktu manusia yang satu menginjak manusia lainnya untuk kepentingan pemuasan perutnya sendiri, di kala semakin punahnya orang – orang yang mau memikirkan nasib orang lain. Eh…, anak ini, yang aku ikhlaskan sarapan pagiku karena aku masih bisa membelinya lagi, malah berbalik memikirkan ‘nasib’ku. “ Mas makan apa ?”  terbayang nggak sih ….

 

            “ Sudah … ambil saja, saya bisa beli lagi. Ini buat adik, “ Senyum di wajahnya memancarkan rasa syukur yang tak tergambarkan, meski hanya sekantong gorengan dan sebotol air mineral. Tanpa lupa mengucapkan terima kasih, ia menyambut hangat tanganku.

 

            “ Aku yang berterima kasih sama kamu dik. Kalau kamu tidak menerimanya, entah kapan lagi kesempatan terbaik ini datang lagi padaku. Mungkin tangan ini akan semakin kaku sehingga sulit terulur. Wajah dan pandangan ini bahkan bukan lagi sekedar berpaling saat kehadiranmu, tapi justru tak lagi melihat meski tangismu bagai halilintar di depan telingaku. Kaki – kakiku tak lagi berhenti untuk sekedar mencari tahu, apa yang tengah terjadi denganmu hari ini. Dan tak ada lagi senyum keikhlasan dari hati ini untuk bisa duduk bersama denganmu.”

 

            Aku teruskan langkahku tanpa menoleh ke belakang, ungkapan rasa syukur terus terngiang mengiringi kelegaan dada yang tiba – tiba saja kurasakan, entah karena apa….    

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: