Be the one who love everyone.It's better than be the one who beloved by everyone

Mukjizat Cinta

Bulan September waktu itu, ketika aku begitu dekat dengan wanita itu, wanita bernama Tiwi, pratiwi Zakhrotuni tepatnya. aku juga telah begitu dekat dengan dia, tapi tidak disini, tidak di alam ini tapi di alam mimpi. Oleh karena itu, begitu aku dekat dengan dia maka aku berusaha untuk menyampaikan apa yang aku rasa dan apa yang aku alami di alam itu, tapi terlalu susah untukku mengutarakan semua itu, aku tidak ingin kedekatan ini akan berubah jika aku mengatakannya.

 

Sudah lama ya, kita tidak melihat bintang-bintang?” kata Tiwi sambil melihat ke arah angkasa. Ke arah langit gelap yang dipenuhi bintang. Menatap bintang-bintang. Juga menatap rembulan.

 

 “Ah, tidak juga,” jawabku santai. “Sudah lama!” “Tidak juga.” Aku perhatikan Tiwi sejak tadi. Ia terus menerus menatap ke arah langit. Menatap bintang-bintang dan bulan. Menikmati keindahan malam. Menikmati keindahan ciptaan Tuhan. “Eh, sudah lama ya kita tidak melihat bintang-bintang?”

tanya Tiwi lagi. Sekali lagi ia bertanya dengan pertanyaan yang sama. “Tidak juga.” “Kamu ini bagaimana sih?” “Lho apanya?” “Kita kan sudah lama tidak melihat bintang-bintang di langit?”

 

“Baru enam bulan yang lalu, Tiwi sayang.” “Berarti sudah lama kan?” “Iya deh.” Tiwi terus saja menatap ke arah langit. Mengamati bintang-bintang di langit. Mengamatinya satu persatu. Juga mengamati bulan. Tapi ia lebih suka mengamati bintang-bintang. Terkadang ia suka membawa teropong untuk melihat bintang-bintang. Kami memang selalu ke tempat ini. Sebuah tempat terpencil di luar kota dan di bawah kaki sebuah gunung besar. Aku hanya menemaninya saja. Terus terang saja aku cuma suka melihat bintang-bintang tanpa perlu mengetahuinya,

 

“Hei, aku mengajak kamu ke sini untuk bersenang-senang!” gerutunya kesal. Tiwi bangkit dan berkacak pinggang. Berpaling ke arahku sambil melotot.

 

“What?” Aku bertanya-tanya. Masih sambil berbaring. Melihat ke atas. Melihat ke bintang-bintang. Juga menatap rembulan. Ia masih saja berkacak pinggang dan cemberut. Aku langsung memeluknya. “Jangan ngambek dong.” “Hmmm.” Ia tidak menjawabnya, malah tersenyum manja. “Ayo kita lihat bintang lagi.” Kami pun berbaring di rerumputan. Kembali melihat bintang-bintang dan menghitungnya satu-persatu. Menatap keindahan bintang-bintang sambil mengunyah biskuit yang kubawa. Betapa indah dan megahnya ciptaan Allah Semesta Alam.

 

 “Hei, lihat ada bintang jatuh!” ujarnya sambil menunjuk sebuah bintang jatuh. Tingkahnya tentu saja lagi-lagi mengagetkan aku yang masih mengunyah biskuit. Hampir saja aku tersedak. “Hmmm.” “Make your wish!” “Buat apa?” tanyaku dengan heran, dengan mulut penuh biskuit. “Kata orang-orang kalau ada bintang jatuh, make your wish and your wish will come true!” jawabnya bersemangat. “Aku tidak percaya dengan hal-hal seperti itu, aku lebih percaya dengan Tuhan.” “Lho, apa salahnya?” “Baiklah!” Aku berkomat-kamit tidak jelas layaknya seorang dukun. Dan, supaya Tiwi tidak mengetahui apa yang aku inginkan. “Sudah?” tanyanya penuh selidik. Aku cuma tersenyum. “Bolehaku tahu?” cecar Tiwi. “Tidak boleh dong,” jawabku. Masih sambil mengunyah biskuit renyah yang kubawa waktu itu.

 

Itulah Tiwi wanita bertubuh mungil yang cantik dan selalu riang, selalu penuh dengan cerita-cerita dan terus bersemangat, dan memberiku banyak arti, kata orang aku saat itu hanyalah seorang yang pendiam, dan akupun bukanlah orang yang populer. tetapi tiwi sangat antusias dan ingin dekat dengan ku. Sungguh aku mencintainya.

 

**************************

Baru sekarang aku sadar sepenuhnya. Ternyata Aku hanya bermimpi. Mimpi menjejakkan langkah kakiku pada waktu lalu. Mimpi menggantungkan rasa ku di kolong langit dalam memandang bintang bersama tiwi. Mimpi menghitung barisan bintang. Mimpi dipeluk hembusan angin. Mimpi bercinta dengan bidadari di sepanjang malam bersama Pratiwi.

 

Aku terjaga malam ini. Kulihat weker mungilku menunjukkan waktu telah lewat tengah malam. Setengah dua lebih sepuluh menit. Kamar ini masih terang karena belum sempat kumatikan saat aku tertidur sambil mendekap dua lembar kertas surat yang kuterima tadi siang.

 

Setelah waktu berlalu 22 tahun perpisahan dengan tiwi. Pagi itu, seperti biasanya tak beda dengan sebelumnya. Kalender yang tetap berupa angka-angka, dengan catatan sana sini tentang kegiatan harian Kantorku yang juga tak berubah.

 

Sesaat aku tertegun dan tersadar melihat tanggal yang sengaja kuberi lingkaran spidol biru. Hari ini tepat ulang tahunku ke empat puluh empat tahun. Hampir saja aku melupakannya. Masih muda, kata Mijan temanku. Banyak penggemar Kamu  yang suka bapak-bapak kayak kita lho, matang dan pengalaman, tambahnya sambil tergelak.

 

Sambil bersandar di kursi, kupejamkan mataku. Waktu melesat secepat anak panah dilepas dari busurnya. Seperti Arjuna menarik Pasupati-nya saat berhadapan dengan Adipati Karna dalam perang Bharatayudha. Begitu juga usiaku. Semakin tua dan tetap sendirian. Hari demi hari yang diisi dengan Menulis, menjadi Wartawan Investigasi Menelisk berita baik di lapangan maupun di perpustakaan. Belum lagi pekerjaan lain yang aku suka, menulis cerpen yang sering bermunculan di media cetak, dan mengundang penerbit untuk menjadikannya kumpulan dalam sebuah buku.

 

Orang bilang aku gila kerja, tapi aku tak peduli, karena hanya itu yang bisa mengisi hari-hariku yang sepi. Mereka memang tak tahu, aku hanya sendirian di rumah. Pembantuku, Mbak Inah yang rumahnya tak jauh hanya datang pagi dan pulang sore. Aku tiba di rumah sudah malam, dengan lelah yang sering tak bisa mengantarku membaca buku atau Koran. disaat senggang aku sangat menyukai dengan membaca. Tapi tahu apa mereka tentang kesendirianku? Saat aku suka merenung belakangan ini, sambil

Berdzikir dan sholat malam, “Ya Allah! Aku mengharapkan (mendapat) rahmatMu, oleh karena itu, jangan Engkau biarkan diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dariMu). Perbaikilah seluruh urusanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Itulah doa yang sering kupanjatkan setiap malamku tanpa pernah terlewat setiap malamku

 

Kadang Setelah sholat malam mataku pun sering susah terpejam, dan aku sering membiasakan jemariku mengetikkan kata-kata dalam cerpen. Terkadang puisi yang juga aku suka, dan kuselipkan dalam jalinan cerita tokoh di cerpen. Puisi yang memberi rasa puas diri dari segala sunyi diri. dan mengenang Tiwiku sayang.

 

Aku tak salahkan mereka, karena memang ini menjadi bagian dari masa silamku yang kusimpan rapat-rapat. Dan kini di saat ulang tahunku yang memang tak mesti dengan lilin atau kue tart, ada rasa nyeri menyeruak di dada. Ya, kesepian ini menghujam tak lagi menanti malam, tapi di saat aku sendiri di ruang kerjaku.

 

Penggalan-penggalan masa lalu berdatangan tak disuruh. Kadang menjadi utuh seperti puzzle, kadang buyar terlempar ke sana kemari tak bisa kupungut lagi. memang terkadang aku masih teringat Tiwi. wanita yang spesial yang sampai saat ini aku tidak tahu dimana rimba keadaanya.

 

********************

Sepi apa ini yang kurasakan? Karena tanpa kekasih? Mungkin. Karena pastilah ini berkaitan dengan

Masa lalu yang masih menumbuhkan luka dalam jiwaku. Luka dari dua puluh lima tahun lalu. Ketika aku masih mahasiswa di tahun pertama di suatu Universitas Negeri di Depok dan menjalin kasih dengan Pratiwi Zakhrotuni yang teman sekampus. Gadis cantik keturunan Semarang dengan rambutnya yang sebahu, kulitnya mulus dan bibirnya sensual ini sejak awal memang menarik perhatianku. Sama-sama suka dan menjalani aktivitas di koran kampus, akhirnya dia dekat hingga aku berhasil merebut hatinya.

 

Kedekatan kami tak cuma dalam kegiatan saja. Bahkan menimbulkan kejadian yang tak terhindarkan. Tiwi hamil setahun kami berpacaran. Cinta kami melenyapkan rasio yang biasanya bertengger di kepala, seperti ketika membahas naskah-naskah koran kampus atau diminta teman-teman senat membuat poster dan spanduk. Ketika kuajak menikah, dia menolak karena tak berani bicara dengan orangtuanya, yang sangat mengidamkan puterinya menjadi sarjana, selain perbedaan status sebagai orang kaya di daerahnya, dan masih keturunan ningrat dari keraton yogyakarta.

 

Tapi aku tak mau menyerah begitu saja. Kuberanikan diri menghadap orangtuanya, untuk melamar anaknya. Langsung saja aku ditolak, bahkan ditambahi dengan semprotan kata-kata kasar, yang kuterima dengan sabar. Bahkan ketika kakaknya yang berbadan besar seperti petinju hendak memukulku, aku diam saja melihatnya dicegah oleh ayah Tiwi.

 

Sekembalinya ke Jakarta, saat aku sedang memikirkan jalan terbaik terhadap masalah ini, Tiwi menghilang. Dari beberapa teman dekatnya, tak satupun yang tahu kemana dia pergi. Aku juga tak yakin dia kembali ke orangtuanya.

 

Sejak itu aku diliputi rasa bersalah dan kehilangan yang sangat. Kuselesaikan kuliah Akutansiku dengan lebih cepat dari yang kurencanakan. Lalu aku mengajar di suatu media cetak nasional sebagi wartawan, sambil terus menulis. Aku juga terus melacak keberadaan Tiwi, hingga ketika menghadiri suatu simposium tentang Akutansi Keuangan Daerah, saat otonomi daerah di indonesia mulai tumbuh. yang berlokasi Di Semarang, kusempatkan ke rumahnya. Sia-sia juga, karena diberitahu oleh adiknya jika Tiwi tak ada di rumah, lalu pintu itu langsung ditutupnya dengan pandangan curiga.

 

Di tengah keberhasilanku menggondol gelar sarjana, dan dengan waktu tak lama menjadi pegawai tetap di Media tersebut, tekanan batinku tak juga lenyap. Tiwi selalu hadir dalam mimpi-mimpiku, di tengah rasa berdosaku. Kuhamburkan waktuku dengan sibuk mencari berita dan menulis cerpen, yang hampir tiada hentinya. Bahkan, aku berhasil menelorkan dua novelku yang makin membuat namaku dikenal di ranah sastra.

 

Aku, Bayangan Tiwi, dan Gugusan Gemintang malam  Tak ada kata apa-apa yang mampu untuk kuucapkan. Hanya angin yang masih mau berhembus mengelus-elus aku bahkan merasakan suatu memori masa muda yang sangat indah ketika bertemu dengan Tiwi Aku serasa ingin mendekapnya untuk sekian lama, untuk mengobati kehilangan setelah sepuluh tahun tak bertemu.

 

Pernah memang kuisi sepi itu dengan mengencani penggemarku yang memang kebanyakan wanita, atau wanita muda yang makin berani menunjukkan minatnya terhadap lelaki. Benar kata Mijan, mereka suka pria dengan kematangan yang tak ada pada diri teman sebayanya.

 

Namun, tetap saja Tiwi menjadi bayangan yang tak bisa hilang dari diriku. Upayaku tak henti untuk mencari kabar tentangnya. Tapi sepertinya dia lenyap ditelan bumi. Tak satupun yang mampu tahu dimana dia kini. Rasa putus asa telah melanda diriku.

 

Dunia yang menyesakkan. Kadang aku merasa ingin lari-keluar batas dari limit waktu , mengembara-kemana saja. Ke seluruh penjuru dunia. Mengikuti angin yang berhembus. Mengikuti arus air di sungai. Mengikuti goyangan kelepak sayap burung-burung.

 

Hanya Mijan yang tahu keadaanku, tapi juga tak berdaya. Aku ingat, ketika dia menikah dan aku datang menyalaminya, dia memelukku dengan erat. Lalu sambil bercanda kepada isterinya dia berkata,”Dik, coba carikan dong jodoh buat kawan kita ini.” Saat itu aku hanya nyengir kuda saja, sambil berpamitan karena ditunggu teman-teman wartawan lainnya.

 

Harus kuakui, meski bercanda tapi ucapan Mijan terasa menusuk hati inijuga membuatku ingin membagi sepi ini. Tapi lagi-lagi aku alami kegagalan. Sempat aku dekat dengan Risna, Febi, Dwi dan Santi tapi mereka tak mampu menepis kehadiran Tiwi. Kadang jika aku putus dengan salah satu wanita itu, Mijan biasanya meledekku sebagai wartawan playboy yang tak Cuma jadi favorit wanita, malah ibu-ibu pun suka. ucap mijan.

 

Kujalani semua ini seperti sungai yang mengalir mengikuti kelokannya. Ibuku di  sudah berulang kali menanyakan kapan aku  memperkenalkan calon menantunya, tapi tetap kujawab dengan Gampanglah, nanti pasti ada”. Maklum saja, sebagai anak pertama dengan tiga adik yang semuanya sudah berumah tangga, ibu cemas dengan keadaanku yang masih betah membujang. Apalagi aku anak kesayangannya, pengganti bapak yang sudah meninggal ketika menjalankan tugas sebagai tentara waktu perang ke Aceh.

 

Tentu saja tak pernah kuceritakan pada ibu, kenapa aku belum juga berumah tangga. Biarkan mereka menduga aku belum menemukan wanita yang cocok, meski beberapa kali ketika aku pulang, ibu danlainnya pernah memperkenalkan aku dengan puteri-puteri kenalan mereka, maksud ibu untuk menjodohkan aku.

 

Kini, saat kulihat kalender tadi dan ulang tahunku tiba tanpa ada suatu apapun yang bisa kubagi dengan orang lain, kurasakan suatu perasaan yang menimbulkan lubang dalam jiwaku.

 

Apakah jalan hidup yang kupilih selama dua puluh lima tahun ini betul? Kalau ya, kenapa aku menutup hati setiap datang wanita lain. dan aku sering bergumam sendiri “Perhatikanlah dunia yang tertawa. Dengan senang hati, tanpa adanya dirimupun kehidupan terus berjalan, masih berlangsung. Dan, dunia masih terus berputar. Kadang-kadang kita merasa sedih, ada atau tidak ada diri ku sama saja. Seperti aku diacuhkan. Sepertinya aku tak berarti lagi. Sebab, kehadiran tanpa bentuk jiwa ,sangatlah tidak mengenakkan suasana.”

 

**********************

Ketika aku terus melamunkan hal itu, dan merasa tenang tanpa gangguan dari Rekan kantor lain. seperti biasanya, aku agak melonjak kaget ketika pintu ruang kerjaku diketuk. Segera kusahut untuk masuk saja karena pintunya memang tak pernah terkunci.

 

Salah satu wartawan baru, yang cantik dengan rambutnya dikepang, kalau tidak salah dia pernah ikut aku dalam mencari berita di lapangan  masuk dengan langkah pasti setelah menutup pintu ruang kerjaku kembali. Aku kenal dia, Leika Pratiwi Subaeriadi namanya karena pernah menilai hasil tulisan beritanya, yang menarik dan cerdas. dan aku suka wanita yang pintar.

 

Pada awal mengenal lieka, aku sempat bergumam dalam hati Subaeradi, sebuah kemiripan dengan nama belakang ku Mohammad Asrulius Alexsander Sobaeradi. memang nama ku panjang, mijan sering meledek aku engga nikah-nikah karena kepanganjangan nama. dalam hati berkata “ah, nama Sobaeradi, kan banyak, Lagian kan ejaannya beda, Aku Sobaeradi dan dia Subaeradi” pikirku menepis pikiran aneh yang terlintas di benakku

 

“Pak, maaf jika saya mengganggu, bolehkah saya minta waktu sebentar soal tulisan berita” ucap laika kepadaku

 

“Silahkan,” kujawab dengan pendek. Lama-lama menatap wajah leika yang lonjong dengan tahi lalat

dekat bibirnya, kulitnya yang putih mulus dan bibir semanis madu ini, membuatku agak tertegunsejenak. Tapi segera kutepiskan pikiran macam-macam dari diriku, karena ada sesuatu yang melintas entah apa.

 

“Saya merencanakan membuat Berita Korupsi ini,”katanya dengan suaranya yang lembut. “Saya ingin Bapak menjadi Penasihat Berita saya. Itu jika Bapak bersedia, dan saya harapkan sekali kesediaannya, Karena bapak adalah wartawan senior di kantor ini.”

 

“Apa Beritanya bisa menjual ” tanyaku Kepada Leika

 

Dengan lugas dia sampaikan tema yang akan dibahasnya, tentang kondisi korupsi seorang Anggota DPR yang ditanggkap Oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dikaitkan dengan problema sosial saat ini. Aku suka pemilihan temanya, yang kurang banyak dilirik oleh wartawan lainnya. Apalagi semangatnya tampak sekali ketika memberikan penjelasan disertai gerak tangan yang lincah percaya diri.

 

“Kenapa tertarik memilih tema ini?”

 

“Menurut saya, Korupsi ini  fenomena yang menarik untuk diamati, dan mempunyai nilai jual tinggi pak. dan masalah korupsi saat ini sangat diminati oleh para pembaca berkait dengan semaraknya korupsi Di Indonesia, dan saya menambah kan dampak Korupsi dalam Pembangunan kehidupan bermasyarakat pak, itulah alasan saya, memilih berita ini utuk di cetak pada edisi besok.”

 

“Jika begitu, buat saja Draftnya seperti biasa, dan nanti tolong kasih saya ya ” kataku sambil sembunyikan kekagumanku atas argumentasinya itu.

 

Tak menunggu lama, leika segera mengirimkan draf rancangan dari map merah jambu yang diambil dari atas meja kerjanya Hmm….aku suka anak ini, gesit dan percaya diri. “Ini, Pak, silahkan periksa,” ujarnya.

 

Sepintas saja aku sudah tahu, pola pikir dan alur pemikirannya runtut serta sistematis. Pantas anak ini bisa di rekrut menjadi wartawan di media ini oleh bagian HRD, apa yang ada di dalam tulisan berita ini menggambarkan kecerdasannya.

 

“Jika Bapak setuju, saya minta bapak untuk menandatangani draftnya Tulisan ini bisa segera diberikan kepada dewan redaksi,” tegasnya.

 

“Baguslah jika begitu. Ada lagi yang ingin leika tanyakan?” kataku karena ingin segera mengakhiri percakapan itu, dan kembali kunikmati sepi. Seperti kata ibuku bulan lalu, ketika aku menjenguknya setelah mendapat sms dan telepon berkali-kali yang mengabarkan beliau sedang sakit.

“Merenunglah dalam usiamu sekarang, apa yang sudah kamu lakoni dalam hidup ini. Cobalah melihatnya dengan kaca mata jernih, dengan kata hati bening dan menyeluruh.”

 

“Ya, pak. Saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Bapak.”Tutur Wartawati baru tersebutAku tertegun. Kukembalikan handphone ke saku celanaku, setelah aku ingin mengirim sms kepada adikku, bertanya tentang keadaan ibu. Seorang wartawan junior yang baru  kukenal  ini tahu hari ulangtahunku? Apakah dia mau mencari simpati, merayu dalam bentuk lain. Ah tidak, pikirku tak percaya, karena dia tampak gadis yang baik-baik, tak ada tatapan nakal di matanya yang indah.

 

“Kamu tahu darimana jika saya berulang tahun hari ini? Jika dari buku novelku, rasanya tak tercantum di situ tanggal lahirku? Apakah dari Artikel, atau dari bagian HRD” Tanyaku

 

“Coba beritahu, darimana kamu bisa mengetahui jika hari ini ulang tahun saya? Apakah Pak Mijan yang membocorkannya?” tukasku sambil membayangkan Mijan pasti ngiler melihat kecantikan wartawan baru  yang satu ini. Tapi kenapa kok dia tak pernah memberitahu jika ada bunga cantik seperti leika ini.

 

“Bukan,pak. Saya tahu ulang tahun Bapak dari beberapa orang yang dekat dengan saya.”

 

“Heh….” Kataku sedikit terkejut

 

“Benar,pak. Saya tahu sudah lama, bahkan sebelum menjadi wartawan di media ini.”

 

“Saya selalu menulis ucapan selamat ulang tahun kepada Bapak. Ada yang di kartu pos, ada yang dalam bentuk surat. Pernah membuat puisi, tapi saya tahu bahwa saya tidak punya bakat seperti Bapak.” Tutur Leika

 

Kalau tadi aku tertegun, kini aku terkejut. Padahal aku termasuk orang yang jarang terkejut. Jarang ada hal-hal yang mampu membuatku terkejut. Aku selalu tampak tenang menerima kabar apapun, jarang terlihat terkejut atau panik. Aku ingat, saat kuliah teman-temanku menjuluki sebagai manusia es, karena aku terlalu dingin. Tapi bagaimanapun, ini mengherankanku. Karuan saja aku memusatkan perhatianku, ingin tahu lebih lanjut terhadap apa yang akan dikatakannya.

 

“Siapa saja mereka itu, apakah saya mengenal mereka?” kali ini suaraku terdengar tak sabar.

 

“Pastilah Bapak mengenal mereka. Kakek dan Nenek saya, lalu Ibu saya….”

 

“Mereka kenal aku?” kupotong perkataannya dengan suara agak keras.

 

“Sangat kenal.”

 

“Siapa mereka?”

 

“Kakek saya Sasongko Sastrowijoyo, Sedangkan Mama saya Pratiw…”

 

Sebelum gadis itu selesai bicara, aku yang tadinya berdiri karena penasaran atas ucapannya, langsung saja terduduk dengan wajah pucat. Kepalaku seperti dipasang kitiran, berputar-putar tak karuan. Gadis ini anak Pratiwi? Siapa ayahnya?

 

Setelah susah payah kutata perasaanku, kutatap mata leika lekat-lekat. Ya, mata ini kukenal sebagai mata Tiwi, sedangkan hidung ini…yang mancung dan bagus, yang dulu sering kuelus.

 

“Jadi kamu puteri Pratiwi? Berapa saudaramu, lalu di Jakarta sini dengan siapa? Oh ya, ibumu dimana sekarang, di Semarang?” beruntun kuajukan pertanyaan padanya. Tak kupedulikan lagi urusan Berita, karena berita tentang ibunya saja sudah membuatku hampir terkapar saking kagetnya.

 

“Iya, Mama ada di Semarang bersama Kakek. Mereka baik-baik saja. Saya tidak mempunyai kakak atau adik, karena anak mama ya Cuma saya ini.”

 

“Lalu…hmmm”

 

“Papa saya adalah Bapak.” Kata leika seperti bisa membaca kelanjutan pertanyaanku, dan menjawabnya dengan tegas. Kepalaku kembali berputar, kali ini kuraih bibir meja agar tidak jatuh. Dengan sigap leika berdiri, memegang tanganku lalu memelukku.

 

“Papa…,” bisiknya dengan suara bergetar. “Saya memang sengaja mendaftar kerja  di sini untuk mencari pak Sobaeradi, melihat anda dari dekat. bahkan tanpa sengaja saya memilih anda sebagai penasihat warta saya. Sebetulnya  ingin saya katakan nanti saja, tapi entah kenapa sedari tadi saya  tadi tak bisa menahan diri.” ucap leika dengan cerdasnya

 

Mendengar itu aku langsung memeluk leika, dan tak kupedulikan apakah tangisanku terdengar dari luar ruang kerjaku. Seperti kukuras semua kepedihan dan kesepianku. Kutumpahkan semuanya di wangi

 

rambutnya. Bagai mendekap anak kecil, leika mengelus-elus rambutku sambil terisak. Dipanggilnya aku beberapa kali sambil terus menangis.Setelah dilihatnya aku mampu menguasai diri, leika berkata lagi, masih dengan suara menggeletar.

 

“Papa tahu, sejak pergi dari sini, Mama pulang ke Semarang dan meski dimarahi habis-habisan tapi tetap tak mau menggugurkan kandungannya. Dia tak mau membuang bayi itu, tak mau membuang saya. Kakek dan Nenek akhirnya luluh, apalagi setelah Mama menyatakan kesanggupannya untuk terus kuliah hingga meraih gelar sarjana di Universitas Negeri di Semarang. Tapi kekerasan hati mereka tetap tak terusik untuk mau mengakui Papa sebagai menantunya. Demi saya, Mama akhirnya mengalah dan tak mau memberi kabar kepada Papa.”

 

“Selalu dikatakannya, saya adalah buah hati dengan lelaki yang dicintainya. Mama menangis habis-habisan ketika Papa pernah datang ke rumah, dan diberitahu oleh Oom kalau Mama tak pernah ada di rumah lagi. Saya ingat, ketika itu Mama mengurung diri hingga berhari-hari.”

 

Aku terdiam. Sungguh, aku tak menyangka jika Tiwi berkeras kepala mempertahankan bayi yang dikandungnya. Kubayangkan, betapa dalam penderitaannya dalam usia muda harus melahirkan tanpa suami, lalu meneruskan kuliah dengan bayi di rumah. Dan Betapa besar rasa cinta Tiwi Kepadaku.

 

“Papa, kembalilah kepada kami. Mama tak pernah menikah, karena dia selalu yakin bahwa Papa juga melakukan hal yang sama.”

 

Aku tertunduk, ucapan leika begitu menyayatku. Tiwi ternyata memegang teguh kesetiaan yang pernah diucapkannya, ketika kami pertama kali melanggar larangan itu. Ketika aku melontarkan cemburuku melihat banyak mahasiswa lain, bahkan yang senior tak henti menggodanya. Dan saat kami senang untuk melihat bintang.

 

“Kami tahu adanya Papa ketika suatu hari televisi menayangkan wawancara Papa sebagai nara sumber. Sejak itu, Mama selalu rajin mencari tahu, bahkan sampai membeli buku novel Papa di jakarta karena di Semarang waktu itu belum ada toko buku yang mengedarkanya.”

 

“Saya sendiri akhirnya minta ijin mama dan kakek untuk bisa melamar di perusahaan ini, saat perusahaan media ini menulis membutuhkan seorang wartawan. Mama mengijinkan, sambil berpesan agar jangan buru-buru membuka identitas diri. Kakek juga berpesan, agar membawa Papa ke Semarang karena mereka sudah lama mencair kekerasan hatinya. Mereka tak peduli Papa masih miskin atau tidak.”

 

Sambil berlinang air mata, kuanggukkan kepalaku sambil membentangkan kedua tanganku lebar-lebar, dan kembali memeluknya dengan air mata yang terus mengalir. Akhirnya aku dan Laika Segera pulang ke Semarang untuk menjemput tiwi.

 

Aku, Tiwi, dan Leika ditemani gugusan bintang yang kami lihat malam itu semua hanya diam. Tak ada kata apa-apa yang mampu untuk kuucapkan. Hanya angin yang masih mau berhembus mengelus-elus  Awal pertemuan tadi bagiku sangat-sangat mengharukan, aku bahkan merasakan suatu memori masa muda yang sangat indah ketika bertemu dengan Tiwi Aku serasa ingin mendekapnya untuk sekian lama, untuk mengobati kehilangan setelah Dua Puluh lima dua tahun tak bertemu. Kini  aku telah menjadi seorang ayah dari seorang yang amat ku cinta. “Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyaatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lilmuttaqiina imaaman. Amiin. Allhamdulilah Atas semua Karuniamu yang luar biasa untuku Ya Allah.” Lafal doakku dalam hati

 

Sepasang tangan menyentuh siku, membimbing aku berdiri. Tak percaya saya melihat, wajah putih bersih Tiwi muncul di hadapan Ku, Setelah berpuluh-puluh tahun. Kapal sudah tertambat dengan rapi, tanpa butuh tiang pancang. Jangkar sudah diturunkan dengan doa abadi. “Apakah kau bersedia, menerima kapal butut ini jadi mahar untuk menikahiku dan pria biasa ini jadi suamimu?” ujar aku kepada tiwi. Tak ada yang mampu berkata apa-apa lagi. Dalam hati penuh Hamdallah, wujud fisik hanya mampu bertukar dua senyum bahagia dalam siraman rahmat. Harumnya serbuk bunga yang menyelamati kami, tak seharum ijab kabul yang menunggu setelahnya. “Segala puji bagi Allah yang menyelamatkan aku dari sesuatu yang Allah memberi cobaan kepadamu. Dan Allah telah memberi kemuliaan kepadaku, melebihi orang banyak.” Alhamdullilah, Terima Kasih ya Allah atas Mukjizat Cinta Mu

 

Depok, 8 April 2008


Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: