Aku memang bukan warga negara indonesia, sekalipun wajah, perawakan dan warna kulit like the real indonesian. Not like, I am Indonesian ! yang kebetulan lahir dan di besarkan di negara kangguru. Dan baru 12 tahun menetap di jakarta.

Aku bangga banget jadi orang Indonesia. Aku bangga punya nenek moyang orang Indonesia. Dan sekalipun aku belum lama tinggal di Indonesia, tapi aku mengenal Indonesia sejak aku di lahirkan. Karena ke dua orang tuaku orang Indonesia, karena kakek dan nenekku juga orang Indonesia, dan keluarga besarku yang juga orang Indonesia.

Bukan karena di Australia nggak ada serabi, singkong goreng atau klepon, makanan khas Indonesia yang bener – bener jadi makanan favoriteku. Tapi karena aku memang orang Indonesia yang lidahnya pasti lebih cocok dengan cita rasa Indonesia. Aku juga penggemar pepes, gudeg, dan semua masakan indonesia yang punya bumbu kaya rasa. Untuk menikmati itu semua aku tidak perlu jauh – jauh pulang ke Indonesia, tanah kelahiran papaku, karena nenek sudah biasa menyediakannya untuk kami sekeluarga bila kebetulan pamanku yang pilot harus terbang ke jakarta.

Semua itu tidak lain karena Nenekku ( I love you so much Ne’ …, karenamu aku bisa tetap menjadi seorang Indonesia ! ) Yang berusaha keras agar anak cucunya tetap mempunyai akar budaya Indonesia, sekalipun sebagian anak dan cucunya lahir di negara orang. Nenek yang memperkenalkan bahasa Sunda juga Jawa pada kami semua, dan menggunakannya dalam percakapan sehari – hari selain bahasa Indonesia dan Inggris. Semua tidak lain karena Nenek dan kakekku ingin kami semua tetap ingat, bahwa Indonesia tetap akar kami, sekalipun cabang dan rantingnya melebar kemana – mana.

Tapi keadaan yang sangat berbeda ku lihat waktu aku sampai di Indonesia. Disini, remaja dan anak – anak lebih suka menyantap makanan siap saji, seperti burger, fried chicken, pizza atau makanan yang ber ‘label’ luar negeri lainnya. Mereka ga kenal gado – gado, sate ayam, gudeg, pukis, klepon, atau bandrek yang notabene makanan dan minuman asli Indonesia.

Breakdance juga lebih ngetop kalo di bandingin dengan tari bali atau tari jawa yang sebenarnya jauh lebih menarik. Pokoknya semua yang berbau ‘asing’ pasti disukai di sini, ga perduli apakah hal itu sesuai atau tidak dengan kebudayaan Indonesia sendiri. Sayang banget ya …

Padahal Indonesia itu kaya banget dengan budaya, kuliner dan alamnya. Kenapa harus bangga jadi orang lain kalo kita bisa lebih bangga jadi diri sendiri ? Kenapa harus malu pakai batik, makan gado – gado dan naik becak kalo itu memang punya kita sendiri, bukan milik negara lain. Kalo orang asing bisa dengan lancar memainkan seperangkat gamelan atau angklung, mestinya sebagai owner kita malu kalo ga bisa lebih baik dari mereka.

Liat Jepang atau India, semaju apapun mereka tetap saja menghargai dan menjunjung tinggi budaya dan hasil produksi negaranya sendiri. Mereka bangga naik mobil buatan dalam negeri, mereka bangga berpakaian tradisional dan mereka menjual kebudayaan untuk komoditi pariwisata dengan baik. Mempromosikannya dengan bangga, dan mempresentasikannya dengan baik. Anak – anak mudanya cinta pada kebudayaan mereka sendiri, sekalipun kebudayaan luar juga menggiurkan.

Sepertinya sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai kebudayaan dan tata nilai yang dimilikinya. Menghargai dan bangga menggunakan hasil karyanya sendiri dan menikmati hasil buminya semaksimal mungkin sambil mendayagunakannya dengan baik.

Jadi kenapa harus malu jadi orang Indonesia … Sejelek atau secarut marut apapun negara ini, harusnya kita tetap bangga jadi orang Indonesia. Saya yang tidak di lahirkan di sini saja, bangga menjadi orang Indonesia, apalagi anda yang dari lahir sampai sekarang menjadi orang Indonesia…

Contohlah kemajuan negara – negara besar dari cara mereka menghargai budayanya, jangan sekedar menyukai life style dan junk food yang bisa jadi ga sesuai dengan kepribadian kita. Setuju kan ??

create from Imanda sites .( imanda.amalia.web.id )